Menata Ulang Bisnis Garuda dan Angkasa Pura
Persoalan lainnya yang meruyak BUMN dalam pengelolaan bisnis transportasi udara adalah hutang yang membelit Angkasa Pura (AP). Pemicunya adalah rapat dengar pendapat Kementerian BUMN dengan Komisi VI DPR. Disebutkan hutang AP I telah mencapai Rp30 triliun per laporan audit 2020.
Apa pemicu utang yang menumpuk ini? Tentu investasi capital expenditure (capex) besar di pembangunan New Airport Yogyakarta dan pembangunan beberapa bandara lainnya dibawah kelolaan AP II.
Problemnya saat mulai dioperasikan pada akhir 2019 situasi pandemi COVID-19 mulai datang dan memukul semua industri di transportasi publik termasuk pengoperasian bandara.
Dalam laporan keuangan AP I tahun 2020 menunjukkan penurunan delta revenue lebih dari 60 persen, sementara delta penurunan biaya pada kisaran hanya 30 persen. Kenapa delta penurunan cost tidak bisa turun lebih tajam? Tentu biaya airport maintenance serta pengoperasian belasan bandara tidak ringan, dan menyebabkan tekanan pada posisi keuangan perusahaan yang merugi pada 2020 sebesarRp1,095 triliun, sementara pada tahun 2021 diperkirakan posisi AP I masih akan merugi sebesar Rp3,2 triliun.
Bagaimana dengan kinerja AP II? Secara umum kondisinya terpukul sejak 2020 dengan kerugian mencapai Rp2,43 triliun. Namun posisi recovery AP II relatif bisa lebih cepat dibandingkan AP I karena Bandara Soekarno-Hatta relatif pulih lebih cepat. Sementara AP II yang mengandalkan Bandara Ngurah Rai Bali masih terhambat lambatnya recovery pariwisata di Bali.

